Jangan Lupa Share Ya!! ^^

Sejarah Kitab Wahyu Yohanes

Sabtu, 11 Agustus 2012

Sejarah tentang kitab wahyu kita mulai dari, pengasingan Yohanes dipulau Patmos,

A. Yohanes di Pulau Patmos

Pulau Patmos adalah sebuah pulau kecil di Laut Aegea. Pulau ini merupakan bagian dari kumpulan pulau-pulau Dodecanese di Yunani.
Banyak puing-puing bangunan di sana yang dapat membuktikan bahwa pada jaman dahulu, Pulau Patmos pernah padat penduduknya. Namun ketika jatuh ke tangan Romawi, para penduduknya pun meninggalkan pulau tersebut, dan akhirnya Pulau Patmos dijadikan tempat pengasingan bagi para pelanggar hukum dan terpidana.


Ketika itu, Kerajaan Romawi dipimpin oleh Kaisar Titus Flavius Domitianus yang memerintah dengan tangan besi. Kaisar Domitianus yang lebih dikenal dengan nama Domitian, barangkali adalah salah seorang kaisar yang tidak begitu terkenal. Namun di bawah pemerintahannya, dia berhasil membentuk dasar pemerintahan Romawi yang lebih kuat.

Dia tidak mempercayai siapa-siapa. Dia bahkan mempunyai cermin-cermin di setiap ruangan, agar setiap saat dia dapat mengetahui siapapun yang berada di belakangnya. Dia juga pernah mengasingkan istrinya sendiri karena anak mereka satu-satunya meninggal di usia yang muda.

Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, berada di Patmos karena setia mengabarkan Injil (Wahyu 1:9)
Pada tahun 95, rasul Yohanes ditangkap dan dibuang ke Patmos karena mengabarkan Injil. Domitian mengharuskan setiap orang memanggil dirinya â?oDominus et Deusâ? yang artinya â?oTuhan dan Allahâ?, sementara Injil mengatakan bahwa Tuhan Yesuslah â?oTuhan dan Allahâ?. Karena itu Kaisar Domitianus memerintahkan agar rasul Yohanes dibuang ke dalam wajan yang berisikan minyak yang mendidih. Akan tetapi, karena pertolongan Tuhan, rasul Yohanes tidak mengalami luka apapun juga. Maka satu-satunya cara untuk menyingkirkan rasul Yohanes adalah dengan mengasingkannya ke Pulau Patmos.

Oleh sebab itu, kita menjadi mengerti alasan mengapa rasul Yohanes menuliskan di Wahyu 1:9, bahwa dia berada di Pulau Patmos karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus. Di sana, ia harus melakukan kerja paksa di siang hari. Pada malam harinya, ia tidur bersama-sama dengan para penjahat di pulau tersebut. Seperti itulah keadaan pada saat itu, yaitu di mana rasul Paulus mendengar suara yang nyaring seperti bunyi sangkakala, berkata: �Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.� (Wahyu 1:10). Kitab inilah Kitab Wahyu yang sedang kita pelajari bersama setiap hari, agar kita tahu apa yang harus segera terjadi. Haleluya!

Baca: Wahyu 1:9-10

©GBI Christ the Healer 2010 [Source]

B. Masalah Penulisan
Secara tradisional penulisan Kitab ini dinisbatkan kepada Johannes, walaupun perdebatan masih terjadi merujuk kepada identitas Johannes yangdimaksud. Konon Kitab ini ditulis berdasarkan Mimpi-mimpi Johannes saat diasingkan di pulau Patmos. Mimpi-mimpi yang diasumsikan sebagai inspirasi Ilahiah terhadap Johannes berisi simbol-simbol aneh, yang tampaknya sangat menarik bagi penduduk di masa itu.
mimpiJohannes berisikan nubuat-nubuat apokalips dan kisah-kisah simbolis akhir jaman yang kebenarannya tidak dapat terbukti kecuali setelah terjadi. Untuk menguji kebenarannya, kita perlu meninjau petunjuk Perjanjian Lama :

Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.
Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? --
apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya." (Ulangan 18:20-22)

Jadi, secara singkat, sangat besar dosa Yohanes jika kitab Yang ditulisnya ini tidak terbukti kebenaranya.

C. Metode Penafsiran 
Seperti diketahui bahwa Johannes menggunakan simbol-simbol dalam pemaparannya mengenai hari akhir. Saya tidak akan berusaha untuk menafsirkan simbol-simbol tersebut, tetapi lebih membicarakan metode-metode penafsiran simbol-simbol tersebut oleh para sarjana. Dalam hal ini para sarjana terbagi atas empat golongan penafsiran.

* Pendekatan para Praeteris
* Dengan kata lain menganggap kitab wahyu hanya menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi di abad pertama, tentu saja dengan dasar Johannes menulisnya beberapa saat setelah kehancuran Jerusallem. Karena menceritakan hal yang telah terjadi, istilah “nubuat” perlu diganti dengan “mengisahkan”. Selain mempertimbangkan bahwa sudah menjadi gaya sastra saat itu untuk mengisahkan kejadian yang telah terjadi seolah-olah kejadian tersebut belum terjadi dan diramalkan akan terjadi. Pemaparan Johannes yang mencakup kehancuran kuil, beberapa kekejaman yang terjadi atas umat Kristen, wabah, dan lain-lain, memang pernah terjadi di abad pertama.
* Pendekatan para Futuris
* Pendekatan ini dilakukan oleh sebagian umat Kristen, mempercayai bahwa kitab wahyu berisikan nubuat-nubuat kejadian yang menyertai kedatangan kedua Yesus. Tanda-tanda akhir jaman memang sudah terjadi, tetapi beberapa belum terpenuhi. Salah satu tanda yang akan menyertai akhir jaman maupun kedatangan kedua Kristus adalah jatuhnya Jerusallem ke tangan anti-Kristus. Walaupun banyak yang membaca anti-Kritus disini sebagai pasukan setan, banyak juga yang menafsirkan anti-Kristus sebagai kaum Yahudi atau Muslim. Para Kristen fundamentalis Amerika umumnya memilih pemikiran terakhir tersebut, menurut mereka dukungan terhadap Israel akan mempercepat turunnya sang Yesus. Disebutkan pula bahwa kaum Yahudi yang membantu perebutan Jerusallem dari tangan Muslim akan kebagian “keselamatan”, dan pada akhirnya menjadi Kristen. Pemikiran semancam ini sangat dipengaruhi oleh iklim politik Amerika-Israel dan Timur tengah yang berbau propagandis.
* Pendekatan Historis
* Tidak jauh berbeda dari pendekatan yang dilakukan para Futuris, golongan ini beranggapan bahwa sebagian besar kejadian atau nubuat dalam kitab wahyu telah terjadi, sejak penyiksaan yang dilakukan terhadap umat Kriten oleh Nero. Salah satu kejadian penting yang belum sepenuhnya terjadi adalah kejatuhan Jerusallem ke tangan anti-Kristus. Dalam hal ini saya perlu meluruskan pandangan kebanyakan umat Kristen bahwa sang anti-Kristus adalah kaum Muslim. Bila benar Muslim adalah sang anti-Kristus, akhir jaman pastilah telah terjadi beberapa abad lalu, saat kaum Muslim berhasil menduduki Jerusallem di perang salib.
* Pendekatan Idealis
* Penafsiran kitab wahyu yang dilakukan secara idealis berarti tidak mengartikan simbol-simbol didalamnya secara khusus, melainkan secara umum. Seluruh materi didalamnya hanya diartikan sebagai simbol pertempuran abadi antara kebaikan melawan kejahatan. Simbol tersebut dapat diterapkan terhadap kejadian apapun, yang tidak spesifik dan berlaku sepanjang jaman.


Empat pendekatan di atas dilakukan dengan dasar kepercayaan bahwa rasul Johannes benar-benar menulis kitab ini berdasarkan visi atau inspirasi dari Tuhan. Bila kita menyangkal keempat pandangan tersebut, kita bisa memilih pendekatan kelima, yaitu pendekatan “omong kosong”. Menurut metode ini, kita harus melihat segala kisah aneh dan simbol-simbol dalam kitab ini sebatas halusinasi atau mimpi buruk yang di alami si penulis dalam tidurnya, entah apapun penyebab timbulnya keadaan tersebut. Keadaan dipengasingan yang mungkin sangat tidak mengenakkan dan beberapa jenis tetumbuhan atau jamur terbukti dapat menimbulkan halusinasi. Kontemplasi yang berat juga dapat menyebabkan keadaan tersebut. Tapi marilah kita tidak terburu-buru mempercayai pendekatan ini.
Perkembangan penafsiran kitab wahyu yang dilakukan kaum futuris-historis selalu berkembang seiring jaman, berbagai peristiwa penting seperti peperangan dan bencana seakan-akan menandakan dekatnya akhir jaman. Setiap penafsir memiliki pandangan tersendiri dalam mengartikan simbol-simbol, dan ini sangatlah relatif. Sebagai contoh, seorang sarjana konservatif Protestan akan menafsirkan “Babylon” atau “kerajaan anti-Kristus” sebagai gabungan dari negara-negara Eropa yang dimotori Inggris dan Roma akan bangkit melawan Israel dalam Armageddon, tentu saja perang ini akan dimenangi kaum Israel dengan bantuan Tuhan. Selajutnya kaum Yahudi akan memeluk agama Kristen. Versi yang berbeda akan kita temukan apabila seorang Katolik Roma (Eropa) menafsirkan “Babylon”. Mereka akan menuduh Amerika sebagai kerajaan “Anti-Kristus” tersebut. Setiap sekte Kristen akan memiliki pandangan tersendiri dalam menafsirkan simbol akhir dunia, dan pada akhirnya hanya Tuhanlah yang akan membuktikan kebenaran. 

Referensi

Banyak sekali perdebatan karena kitab wahyu ini. Karena kitab ini sangat tidak rasional dan tidak ilmiyah.

  © Free Blogger Templates Columnus by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP